Tampilkan postingan dengan label a letter my father never see. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label a letter my father never see. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 April 2014

Satu Dasawarsa

Pagi itu Rabu,14 April 2004 angka cantik 14.04.04

Saya berangkat ke sebuah RS. Swasta di daerah Bekasi Barat (RS Mitra Keluarga Bekasi Barat) bahkan saya masih ingat baju yang saya kenakan saat itu celana jeans crem dan kaos garis-garis vertikal bergambar fido dido. Pagi itu saya harus menggantikan mama yang sudah sejak semalam tidur di RS.

Sampai disana,
Saya masih melihat beliau tergolek di bangsal RS dengan infus, selang oksigen dan beberapa alat ditubuhnya.
Beliau setengah sadar, namun beliau masih bisa tersenyum dan menggerakan tangannya ketika saya datang dan berbisik di telinganya "assalamualaikum, selamat pagi pa, nuke yg jaga papa hari ini..."

Beberapa jam saya duduk termenung disitu,
Sesekali membaca beberapa doa dan meneteskan air mata. Antara harapan dan kepasrahan yang sangat tipis jaraknya.

Sambil saya sambil sms sahabat karib, kebetulan sudah sejak semalam saya telp sahabat karib saya untuk menemani saya di RS hari ini, dan dia sedang dalam perjalanan...

Sesaat kemudian nafas papa tersendat-sendat, saya berkali-kali menekan bel panggilan dan tak lama suster datang, kemudian suster tersebut menghubungi dokter dan suster lainnya. Seketika kamar tersebut penuh dengan dokter dan suster dan segala peralatan medis lainnya.

Saya diminta menunggu di luar...

Ditengah panik dan harus tetap tenang, saya hubungi semua sodara yang bisa dihubungi untuk segera kesini termasuk mama. Apapun yang terjadi saat itu saya pasrah, beliau sudah 2minggu lebih disini dari ICU, intermediate, sampai ruang perawatan biasa. Dari infus, cuci darah, transfusi darah, obat semua sudah dijalani.

09.30 saat sahabat saya datang...
Saat itulah dokter bilang "Bapak sudah tiada"
Sesaat saya tidak ingat apa-apa dipelukan teman saya, sampai mama datang dan beliau berteriak histeris. Di iringi isak tangis seluruh keluarga yang sudah hadir disitu, keramaian lorong rumah sakit dan beberapa orang penunggu pasien yang melihat dan mengucapkan bela sungkawa. Adik saya yang masih memakai seragam sekolah hanya duduk dipojok ruangan berserta teman-teman seganknya.

Dan saya di saat badan lemas dan kalut harus melihat jenazah beliau dicopoti seluruh alat-alat yang menempel di badan beliau, beliau tersenyum. Mungkin sudah lega karena sudah tidak merasakan lelahnya sakit gagal ginjal yang sudah 3tahun beliau rasakan.

Firasat mungkin ada...
Tapi mungkin saya yang tidak pernah menyadarinya.

Satu Dasawarsa
10 Tahun sudah beliau tiada, meninggalkan banyak kenangan.

Saat itu saya baru 17 Tahun,
Baru saja menyelesaikan sekolah, baru saja berunding dengan papa akan masuk ke sebuah universitas di jakarta.
Saat beranjak dewasa, saat papa baru saja mengijikan saya membuat surat ijin mengemudi, saat beliau ingin saya bisa mengemudikan mobil "kalau papa tiba-tiba sakit harus ke RS kalo kamu ga bisa nyetir terus papa suruh nyetir mobil sendiri"

Beliau yang begitu penyayang, royal tak hanya pada keluarga tapi pada saudara-saudara dan semua rekan-rekannya,
Beliau yang ramah, disiplin, idealis, cerdas.
Beliau yang selalu menghormati orang tuanya, (kakek dan nenek)

Saya rindu beliau,
Saya ingin berSelfie bersama beliau ketika di sosial media melihat beberapa teman berSelfie bersama ayahnya.
Beliau yang tak akan pernah tergantikan oleh siapapun.
Beliau yang tak kan pernah bisa habis ceritanya kalau saya ceritakan.

Beliau di Makamkan di kota asalnya Pemalang, Jawa Tengah, di samping makam kakek, kemudian 2009 disampingnya ditemani adik terakhir saya "Adyatma Mahardhika Wiedha"

Papa...
Akhir-akhir ini kenangan akanmu sering muncul, seakan diputar kembali dalam memori otakku.
Bahkan tengah malam aq suka terbangun menangis.
Seandainya Engkau masih disini...

Till we meet again, Father...
14.04.2004 - 14.04.2014

Senin, 07 April 2014

Father Handwriting

Kenapa tiap weekend saya harus pulang Bekasi, karena disinilah rumah saya, 20tahun tinggal disini udah bagaikankota kelahiran saya. That's why kenapa saya selalu pengen menghabiskan waktu LIBUR saya disini.

#TimGaSukaKerjaWeekendKecualiShiftAtauLembur

Beberapa waktu lalu saat hujan sedang puncak-puncaknya di rumah sempet kena banjir, diluar udah banjir parah nah tambah problema ketika dalam rumah yang seharusnya ga banjir karena debit air luar yang udah ga nampung jadilah rembes. Kerembesan ini yang membuat keramik rusak alhasil kita harus renovasi keramik rumah minggu ini.

Renovasi rumah berarti kita harus bongkar muat semua barang-barang yang ada, ini menarik buat saya karena saya sudah lama ga beresin kolong bekas meja kerja alm.papa yang kemarin juga sempet kena dampak banjir.

Hampir 10tahun sudah...
Beliau yang menempuh Sarjana Teknik Sipil di Institut Teknolohi Sepuluh november Surabaya (ITS Surabaya) dan menempuh S2 Arsitektur di Universitas Negeri Jakarta ini memang orangnya nyentrik menurut rekan-rekannya..

Bongkar-bongkaran saya dapet berbagai kenangan beliau yang tentunya sudah absurd karena terletak di lantai kena bocoran dan banjiran. Beliau suka nulis dari tulisan art sampai nulis puisi herannya tulisan cuma coretan-coretan aja diliat bagus aja gitu. Berbagai buku bacaan beliau tentang jurnalisme, ini kayanya yang menurun ke saya suka dengan dunia jurnalisme yang membuat saya kuliah di bidang itu.

Laporan-laporan penelitian, laporan analisa bangunan, tender-tender dengan berbagai kantor kontraktor bangunan, buku-buku kuliah sipil dan arsitektur dan binder file kuliah arsitektur yang catatan demi catatannya asli tulisan tangan beliau.

Dulu papa pengen banget salah satu anaknya nyangkut ke arsitektur, entah kenapa malah ga ada satu pun dari kita yang akhirnya kuliah mendalami bidang ini. Adik saya yang backgroundnya bahasa inggris pengajaran dan saya yang lulus sebagai mahasiswa bahasa inggris jurmalistik. Tapi mungkin Tuhan memang tetap memberikan kami berdua jalan untuk bekerja di bidang yang berhubungan dengan Teknik Sipil dan Arsitektur. Saat sini saya bekerja sebagai staff administrasi di sebuah warehouse store building dan si mungil di perusahaan multinasional yang bergerak di bidang kontraktor engineering. Baca semua file-file papa jadi senyum sendiri, paling tidak walau tidak belajar ilmu beliau di bangku kuliah, kami belajar di dunia kerja. Mungkin kami bisa punya perusahaan di bidang ini suatu hari nanti.

This is my father handwiritng...

Jumat, 30 Agustus 2013

titip ini untuk Ayah-Ku

Saya bukan orang yang pandai bicara, tapi mungkin saya sedikit pandai merangkai kata-kata, saya tidak pandai untuk bercerita hidup saya kepada orang lain,saya hanya membaginya pada setiap tulisan saya dimanapun saya sempat menulis.

Saat perjalanan pulang dari kantor menuju rumah tadi, disebelah saya duduk seorang perempuan yang saya perkirakan dia seumur saya. Dia sedang menerima telepon yang saya pastikan itu dari ayahnya "iya pa, aku udah sampai grand mall papa tunggu aku dilampu merah aja." dan ketika dia turun dilampu merah ada sesosok bapak yang telah menunggunya untuk pulang bersama. Oh dear, tanpa sadar saya menitikan air mata. Saya jadi terngiang masa lalu kapan ya terakhir kali saya mungkin mengucapkan hal yang sama kepada ayah saya, kapan terakhir kali dia mengantar dan menjemput saya. Ketika rasa rindu itu muncul kembali, ketika diri ini menginginkan kehadirannya untuk membantu mempertimbangkan langkah masa depan saya, ketika saya harus melewati fase terpenting dalam hidup saya, ketika ingin rasanya saya mengatakan "pa, kami berdua mohon doa restu."

 
i need u dad, if only in my dream...
 
Saya tau saya tidak boleh menangis, Saya tidak boleh menampakan kelemahan saya didepan keluarga saya, saya harus kuat.
Saya selalu diingatkan bahwa "Allah selalu punya rencana yang lebih sempurna dibanding rencana hambanya." Beliau sudah bahagia disana, Beliau bukan tidak mau hadir dalam mimpimu, Karena beliau ingin engkau mengikhlaskan beliau beristirahat dengan tenang di sisi-Nya.

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk membiasakan diri bahwa raganya memang tidak ada bersamamu tapi doanya akan selalu membimbingmu.

Saat terakhir dia hadir dalam mimpi saya, saat itu beliau hanya menepuk pundak saya dan berkata "kalau memang itu pilihanmu, segerakanlah nak, aku merestuimu." Tidak sempat mengatakan apapun, Beliau hilang dan bahkan dalam mimpi saya menangis. Inilah yang saya katakan fase terpenting dalam hidup saya, saat saya mantap untuk menempuh jalan selangkah lagi bersama pasangan saya menuju sebuah PERNIKAHAN.

Kami tidak mengingikan lebih dari yang kami punya.
Kami tau perjalanan kami masih begitu panjang untuk membentuk masa depan yang sempurna.
Kami ingin melengkapi hidup kami.
Kami ingin menyempurnakan ibadah kami.
Kami ingin melihat adik-adik kami mempunyai bekal yang cukup untuk masa depannya.
dan paling utama kami ingin orang tua kami selalu tersenyum melihat kami bahagia.

Dear Papa,
aku tau tak banyak kata yang dapat aku ucapkan padamu.
jika aku masih diijinkan untuk bertemu engkau dalam mimpiqu,untuk melihat senyumu, aku hanya ingin berkata "I love you so much dad, I really need your hug."
semoga engkau dan adik selalu bahagia di sisi-Nya.

Minggu, 14 April 2013

9 season, as the time goes by

If only one last time i could see you
If only one time i could tell you what i think
If only one time i could say what i've been thinking for all these years
If only i could say that you don't matter
If only i could sat and put into words what you've put me through

God, Shepherd my dad today 9years ago
I let him lay
To still waters guide his way
Restore his soul, I pray
Lead him in the paths of right
Through the valley give him light
When he's afraid ease his fright
With thy rod and staff lend might
And thy mercy cease never

for all that you've done for me...
want to see you before I'm gettin married 

In Memoriam of Mr. Yulie Widha Supriyatna, B.E
  14 April 2004 - 14 April 2013