2 November 2015

Perkara Menyusui

Sebagian besar dari kita mungkin berfikir menyusui adalah hal alamiah seperti melahirkan. Ternyata menyusui tidak sekedar membuka Bra nyodorin payudara ke anak kemudian anak menyusu dengan tenang sampai dia kenyang.

Sejak hamil saya termasuk yang rajin membaca tentang kehamilan, menyusui, pola asuhan bayi dan segalanya yang berhubungan dengan perbayian tetapi sama seperti pelajaran teori di sekolah praktek tidaklah semudah teori-teori yang ada di buku-buku expert itu. Percayalah!

Saat kehamilan masuk trimester ketiga kala itu sesuai dengan anjuran yang sudah berpengalaman saya mulai lebih merawat payudara di olesin baby oil supaya ga kering dan dipijit supaya puting muncul, menurut saya, saya ga ada masalah dengan anatomi payudara cuma memang sejak hamil ukurannya jadi bertambah tapi untuk ibu hamil hal tersebut di nyatakan wajar. Malah saya sempat merasakan asi sudah rembes kebaju karena ga ada angin ga ada hujan baju bagian payudara sudah basah.

Lalu setelah melahirkan, bagaimana proses menyusui?
Seperti yang pernah saya ceritakan saya gagal IMD karena satu dan lain hal. Baru bertemu kevia untuk di susui 6jam setelah proses persalinan. Bayi di berikan ke saya kemudian langsung suruh menyusui, berbekal semua teori yang sudah saya baca saya belajar sendiri di dampingi suami saat pertama kali menyusui. Berharap saat itu ada bidan yang sudah ahli mendampingi tapi nampaknya pagi itu tenaga medis di situ sedang tidak lengkap. Menyusui untuk pertama kali itu bikin terharu bayi itu pintar dia bisa cari sendiri dimana sumber makanannya, ketika mulut kecil meyentuh payudara itu perasaannya ga bisa di ungkapkan dengan kata-kata.

Selama dua hari di rawat di Klinik semua berjalan lancar, si bayi anteng kebetulan perawatannya rooming in jadi setiap saat selalu ada di sisi saya kecuali pas jamnya di mandikan. Asi belum begitu lancar namun saya tetap susui ke bayi.

Tiba saat pulang ke rumah...
Menurut teori bayi masih dapat bertahan 3hari karena masih menyimpan cadangan makannya. Kenyataannya bayi terus-menerus rewel saat sudah tiba dirumah maunya nenen terus di sinilah di mulai drama menyusui termasuk puting yang akhirnya lecet ga karuan. Badannya sempat demam saya pun ikut demam karena payudara bengkak saran seorang teman coba pompa biar asinya keluar ga jadi sumbatan biar ga bengkak plus demam. Karena saat melahirkan udah PD banget proses ini akan lancar saya ga masukin breastpump di list belanja ya saat itu ada teman juga yang menawarkan memberikan breastpump karena dia ada dua dan satu tidak terpakai daripada mubazir. 

Saya mengakali dengan memerah pakai tangan, perjuangan yang aduhai waktu itu terkumpul 4sendok kecil asip. Kevia masih demam saya konsul dengan bidan yang menolong saya beliau bilang asix bagus namun ketika dalam keadaan terdesak jangan di paksakan bu jangan sampai bayinya kekurangan cairan. Dari situ saya nyaris menyerah saya minta suami membelikan sufor untuk cadangan sambil saya kekeh nenen dan pompa. Ga sengaja beresin laci eh nemu pompa super manual bekas punya mama ketika beliau melahirkan adik saya yang terakhir (pompa super manual yang bentuknya corong). Sedikit-sedikit akhirnya terkumpul setengan botol asip, alhamdulilah. Di coba di berikan ke bayi sampai habis, jam berikutnya bayi coba di berikan sufor tapi dia menolak selalu di lepeh dalam hati anak pintar kamu tahu mana yang lebih enak ya nak.

Keesokan harinya saya minta suami untuk membelikan breastpump manual supaya saya bisa lebih lancar pompa asi agak alirannya lebih lancar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar