21 Januari 2014

Matahariku

Waktu sudah pukul 00:08 
Ketika saya masih berselancar dengan iPad saya
Pasti mau tanya kok ga memenin suami?
Dengan cuaca yang rendeng (jawa : dingin musim hujan), suami lebih memilih stay di permata hijau tidak di bekasi karena jarak tempuh untuk berangkat ke kantor jauh lebih singkat.
Jadilah saya masih begitu terjaga, terjaga karena cuaca yang terlalu dingin
Coba bayangkan bagaimana dinginnya badai di amerika kemarin?
Dan coba bayangkan bagaimana nasib warga yang ada dalam pengungsian saat bencana banjir seperti ini?

"Musibah dan cobaan itu datangnya dari Allah"
"Tetaplah bersyukur"

Yang namanya banjir pasti datang dari kawasan yang tinggi ke rendah
Rumah saya yang jarang terkena banjir kali ini pun harus merasakannya, walau hanya 5cm tapi cukup repot buat bersihinnya, lalu bagaimana dengan mereka yang banjir bermeter-meter?
Berapa kerugian yang timbul karena bencana ini?

Bencana tetaplah bencana yang tidak tau datangnya kapan, bagaimana?
Tetap harus diterima dan dihadapi
Saling membantu, gotong royong
Jangan salahkan siapapun kenapa bencana bisa hadir ditengah-tengah kita
Tapi cobalah sadar dari diri sendiri dulu
Jagalah lingkunganmu, alammu, tempat dimana kau tinggal
Tempat dimana kita bersujud, berdoa semoga ada hikmah dibalik semua ini

Matahari yang sudah hampir seminggu bersembunyi
Walau sesekali muncul kemudiam hilang
Walau kami suka mengeluh kenapa engkau bersinar begitu cerahnya
Tapi saat ini...
Kami rindu sinarmu
Kami rindu kehangatanmu
Kami rindu melihat engkau muncul di timur dan memandang senja di barat

Kapan kami akan melihat indahnya pelangi lagi?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar